KENDARI – Universitas Mandala Waluya kembali mencatatkan prestasi gemilang di tingkat nasional. Tim mahasiswa dari organisasi kemahasiswaan kampus ini berhasil meraih posisi juara pertama dalam Kompetisi Inovasi Teknologi Berkelanjutan (KITB) 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada tanggal 31 Maret 2026 di Jakarta. Pencapaian luar biasa ini membuktikan dedikasi tinggi mahasiswa Mandala Waluya dalam mengembangkan inovasi yang berdampak sosial dan lingkungan.
Delegasi mahasiswa yang terdiri dari enam anggota inti telah melakukan perjalanan panjang melalui berbagai tahapan kompetisi selama kurun waktu tiga bulan. Mereka berangkat dari Kendari dengan membawa karya inovatif berupa sistem pengolahan limbah organik terintegrasi berbasis Internet of Things (IoT) yang dirancang khusus untuk mengatasi permasalahan sampah di daerah pesisir Indonesia. Karya ini berhasil mengalahkan 247 peserta dari universitas-universitas ternama di seluruh Indonesia.
Ketua Tim Inovasi, Akbar Rahmadani, mahasiswa tingkat ketiga Fakultas Teknik Elektro Universitas Mandala Waluya, mengungkapkan rasa bangga dan syukurnya atas prestasi yang diraih. “Perjalanan kami menuju juara nasional tidak mudah. Kami harus melewati seleksi administrasi, presentasi di tingkat regional, hingga final nasional. Setiap tahapan adalah pembelajaran berharga bagi kami. Alhamdulillah, kerja keras dan dedikasi tim akhirnya membuahkan hasil yang memuaskan,” ungkap Akbar dalam sesi wawancara eksklusif dengan media kampus pada Selasa, 02 April 2026.
Perjalanan Menuju Kejayaan
Kisah sukses ini dimulai ketika Akbar dan rekan-rekannya mengikuti rapat koordinasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Mandala Waluya pada Januari 2026. Dalam rapat tersebut, pembina organisasi mahasiswa, Drs. Wahyu Kusuma, M.Pd., menyampaikan informasi tentang Kompetisi Inovasi Teknologi Berkelanjutan yang akan dibuka untuk pendaftaran. Seketika itu, Akbar merasa tertarik dan mulai mengumpulkan mahasiswa yang memiliki passion serupa dalam bidang teknologi dan keberlanjutan lingkungan.
“Saat itu, kami hanya memiliki ide kasar. Kami ingin membuat sesuatu yang benar-benar berdampak nyata untuk masyarakat. Setelah melakukan riset mendalam tentang masalah yang paling mendesak di Indonesia, kami fokus pada pengelolaan limbah organik. Khususnya, kami memerhatikan desa-desa pesisir di Sulawesi Tenggara yang masih menghadapi kesulitan dalam mengelola limbah hasil tangkapan ikan,” jelas Akbar ketika menjelaskan latar belakang ide inovasi mereka.
Tim yang awalnya hanya terdiri dari empat orang ini kemudian berkembang menjadi enam anggota inti, didukung oleh berbagai mahasiswa dari latar belakang disiplin ilmu yang berbeda. Selain Akbar dari Teknik Elektro, tim juga melibatkan Sinta Permatasari (Teknik Lingkungan), Muhammad Rizki Pradana (Sistem Informasi), Nur Azizah (Desain Komunikasi Visual), Fadhil Hidayat (Manajemen), dan Rahma Dwiyanti (Ilmu Sosial dan Ilmu Politik).
Kombinasi keahlian multidisipliner ini menjadi kunci sukses mereka. Setiap anggota berkontribusi sesuai dengan bidang keahliansnya, menciptakan sebuah produk inovasi yang tidak hanya teknis canggih, tetapi juga mempertimbangkan aspek sosial, lingkungan, dan ekonomi berkelanjutan.
Inovasi yang Mengubah Paradigma
Sistem pengolahan limbah organik yang mereka kembangkan, yang dinamai “EcoWaste IoT System”, dirancang dengan antarmuka yang user-friendly dan dapat diterapkan di berbagai skala, mulai dari keluarga hingga industri kecil menengah. Sistem ini mengintegrasikan sensor IoT canggih yang mampu memantau suhu, kelembaban, dan komposisi kimia limbah organik secara real-time.
“Keunggulan sistem kami adalah efisiensi waktu dan energi. Proses pengolahan limbah organik yang biasanya memakan waktu 60 hingga 90 hari dengan metode konvensional, dapat dikurangi menjadi 30 hari dengan sistem kami. Selain itu, produk akhirnya berupa kompos berkualitas tinggi dan biogas yang dapat dimanfaatkan sebagai energi terbarukan,” tutur Sinta Permatasari, anggota tim yang berperan sebagai ahli teknis lingkungan.
Dalam kompetisi nasional, tim ini tidak hanya menampilkan prototipe fisik, tetapi juga menyajikan data komprehensif tentang dampak lingkungan dan analisis kelayakan ekonomi produk mereka. Mereka menunjukkan bahwa implementasi EcoWaste IoT System di satu desa pesisir dapat mengurangi emisi karbon hingga 40 persen dan menciptakan nilai ekonomi tambahan senilai 150 juta rupiah per tahun dari penjualan kompos dan biogas.
Juri kompetisi, yang terdiri dari para akademisi dan praktisi industri terkemuka, sangat terkesan dengan pendekatan holistik yang ditunjukkan mahasiswa Mandala Waluya. Mereka menilai bahwa sistem ini tidak hanya inovatif secara teknologi, tetapi juga memiliki potensi implementasi nyata yang signifikan untuk mengatasi krisis sampah di Indonesia.
Dukungan Penuh dari Kampus
Rektor Universitas Mandala Waluya, Prof. Dr. Ir. Bambang Sutrisno, M.Sc., mengekspresikan kebanggaan mendalam atas pencapaian mahasiswa ini. Dalam pernyataan resmi yang diberikan kepada media pada 01 April 2026, beliau menekankan komitmen universitas terhadap pengembangan ekosistem inovasi dan kewirausahaan mahasiswa.
“Prestasi ini adalah buah dari sinergi yang baik antara mahasiswa, dosen pembimbing, dan seluruh ekosistem akademik Universitas Mandala Waluya. Kami telah menginvestasikan sumber daya yang signifikan untuk mendukung program-program pengembangan mahasiswa, termasuk fasilitas laboratorium, pendanaan penelitian, dan mentoring dari dosen berpengalaman. Pencapaian juara nasional ini memvalidasi strategi kami dalam mengembangkan universitas yang tidak hanya akademis, tetapi juga inovatif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat,” ujar Prof. Bambang dengan antusias.
Koordinator Organisasi Mahasiswa Universitas Mandala Waluya, Drs. Wahyu Kusuma, M.Pd., juga memberikan apresiasi khusus kepada tim pemenang. Beliau menerangkan bahwa kesuksesan ini menjadi motivasi bagi organisasi mahasiswa untuk terus mendorong mahasiswa lainnya untuk berpartisipasi dalam berbagai kompetisi nasional dan internasional.
“Kesuksesan Akbar dan timnya adalah kesuksesan bersama. Organisasi mahasiswa kami telah memberikan ruang yang luas bagi mahasiswa untuk mengembangkan ide dan kreativitas mereka. Kami juga secara aktif mencari informasi tentang berbagai kompetisi dan beasiswa yang tersedia, kemudian mengkomunikasikannya kepada seluruh mahasiswa. Selain itu, kami juga mengorganisir workshop, seminar, dan diskusi ilmiah yang mendukung pengembangan skill mahasiswa,” jelas Wahyu.
Dampak dan Rencana Selanjutnya
Prestasi ini telah menginspirasi banyak mahasiswa lainnya untuk turut aktif mengembangkan inovasi mereka sendiri. Dalam beberapa hari setelah pengumuman pemenang, kantor organisasi mahasiswa Universitas Mandala Waluya menerima puluhan pertanyaan dari mahasiswa yang ingin bergabung dalam tim pengembangan inovasi serupa atau membentuk tim baru mereka sendiri.
“Momentum ini sangat berharga. Kami melihat peningkatan signifikan dalam antusiasme mahasiswa untuk mengikuti kompetisi akademik dan inovasi. Ini menunjukkan bahwa prestasi satu tim dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi seluruh komunitas kampus,” ujar Akbar yang kini juga dipercaya untuk menjadi mentor bagi tim-tim inovasi lainnya.
Sementara itu, tim pemenang sendiri telah merencanakan langkah selanjutnya yang sangat ambisius. Mereka berencana untuk mendaftarkan hak paten atas inovasi EcoWaste IoT System ke Dirjen Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM. Selain itu, mereka juga sedang mengembangkan rencana inkubasi bisnis dengan target untuk meluncurkan startup dalam enam bulan ke depan.
“Kami ingin memastikan bahwa inovasi ini tidak hanya menjadi karya akademik, tetapi benar-benar berdampak nyata bagi masyarakat. Oleh karena itu, kami telah menjalin kerjasama dengan beberapa desa pesisir di Sulawesi Tenggara untuk melakukan pilot project implementasi sistem kami. Kami juga sedang mencari investor dan pendanaan untuk mengembangkan produk ini lebih lanjut,” jelas Muhammad Rizki Pradana, anggota tim yang menangani aspek bisnis dan implementasi.
Universitas Mandala Waluya sendiri telah menjanjikan dukungan penuh untuk mendampingi proses inkubasi bisnis ini, termasuk menyediakan akses ke fasilitas laboratorium, mentoring dari dosen berpengalaman di bidang kewirausahaan, dan koneksi dengan investor potensial melalui jaringan alumni universitas.
Penutup
Pencapaian mahasiswa Universitas Mandala Waluya dalam Kompetisi Inovasi Teknologi Berkelanjutan 2026 tidak hanya membanggakan komunitas kampus, tetapi juga menjadi simbol dari komitmen perguruan tinggi Indonesia dalam mengembangkan talenta-talenta muda yang inovatif dan visioner. Di tengah berbagai tantangan global seperti perubahan iklim dan krisis lingkungan, inovasi-inovasi seperti EcoWaste IoT System memberikan harapan bahwa solusi konkret dapat dikembangkan oleh generasi muda Indonesia yang berbakat dan berdedikasi.
Melalui prestasi ini, Universitas Mandala Waluya telah membuktikan bahwa keunggulan akademik bukan hanya diukur dari nilai ujian, tetapi juga dari kemampuan mahasiswa untuk mengubah pengetahuan dan keterampilan mereka menjadi inovasi yang berdampak sosial dan lingkungan. Semoga kesuksesan tim ini menginspirasi lebih banyak mahasiswa di seluruh Indonesia untuk terus berinovasi dan berkontribusi nyata bagi pembangunan berkelanjutan negeri ini.
Dengan posisi sebagai juara nasional, tim Universitas Mandala Waluya telah menetapkan standar baru dalam ekosistem inovasi kampus. Perjalanan mereka baru saja dimulai, dan dunia sedang menantikan kontribusi lebih lanjut dari para inovator muda berbakat dari Kendari ini.
[Akhir Artikel]
—
Penulis: Tim Jurnalis Kampus Universitas Mandala Waluya
Tanggal Publikasi: 02 April 2026
Lokasi: Kendari, Sulawesi Tenggara