KENDARI – Universitas Mandala Waluya (UMW) resmi meluncurkan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) terintegrasi tahun akademik 2026 pada Rabu, 10 April 2026, di Auditorium Pusat Kampus. Program pengabdian masyarakat ini melibatkan 450 mahasiswa dari berbagai fakultas yang akan ditempatkan di 15 desa pilihan di Sulawesi Tenggara selama delapan minggu ke depan.
Inisiatif strategis ini merupakan komitmen UMW dalam mengintegrasikan tri dharma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, dengan melibatkan organisasi kemahasiswaan sebagai motor penggerak utama. Peluncuran program ini dihadiri langsung oleh Rektor UMW, Wakil Rektor Bidang Akademik, Ketua Senat Mahasiswa, serta perwakilan dari Pemerintah Desa dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Provinsi Sulawesi Tenggara.
### Latar Belakang Peluncuran Program
Pengabdian masyarakat telah menjadi bagian integral dari filosofi Universitas Mandala Waluya sejak berdiri pada tahun 1998. Namun, tahun ini menandai era baru dengan integrasi lebih mendalam antara kurikulum akademik, riset mahasiswa, dan kebutuhan nyata masyarakat lokal. Krisis ekonomi pasca-pandemi COVID-19 yang masih berdampak pada ekonomi kerakyatan di beberapa desa di Sulawesi Tenggara menjadi salah satu alasan pemilihan lokasi KKN.
“Kami melihat bahwa masyarakat desa membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan, bukan hanya bantuan sesaat. Mahasiswa kami memiliki energi, pengetahuan, dan dedikasi untuk membuat perubahan yang nyata,” ungkap Rektor UMW, Prof. Dr. Bambang Suryanto, M.Eng., saat membuka acara peluncuran di hadapan ratusan peserta.
Direktur Pelaksana Program KKN, Dr. Hendra Wijaya, S.T., M.Si., menambahkan bahwa program tahun ini dirancang dengan pendekatan holistik yang mencakup pembangunan infrastruktur sosial, pemberdayaan ekonomi, peningkatan kualitas pendidikan, dan pelestarian lingkungan. “Kami tidak hanya ingin mahasiswa belajar dari masyarakat, tetapi juga memberikan kontribusi konkret yang terukur,” jelasnya.
### Struktur dan Cakupan Program KKN 2026
Program KKN Universitas Mandala Waluya tahun ini melibatkan 450 mahasiswa yang dibagi menjadi 30 kelompok, dengan rata-rata 15 mahasiswa per kelompok. Setiap kelompok akan ditugaskan di satu desa selama 8 minggu, mulai dari tanggal 21 April hingga 16 Juni 2026.
Desa-desa yang menjadi lokasi KKN adalah Desa Wawonii, Wawonii Barat, Wali, Kabaena, Kabaena Timur, Lohia, Baito, Batu Putih, Korumba, Wanggu, Sampela, Maluku, Mola, Bajo, dan Suka Ramai. Seluruh desa ini terletak di Kabupaten Wakatobi dan Konawe Kepulauan, yang merupakan wilayah dengan indeks pembangunan manusia relatif rendah.
Ketua Organisasi Mahasiswa UMW, Sinta Permatasari, mahasiswa semester 7 Fakultas Ilmu Sosial, menekankan peran aktif organisasi mahasiswa dalam program ini. “Organisasi kami tidak hanya sebagai peserta pasif, tetapi sebagai fasilitator dan koordinator. Kami memastikan setiap kelompok memiliki tim yang komprehensif, dari mahasiswa teknik hingga pendidikan, sehingga dapat menangani berbagai kebutuhan di lapangan,” ujarnya dengan antusias.
Luaran spesifik yang ditargetkan dalam program KKN 2026 mencakup:
1. Pemberdayaan Ekonomi Lokal: Pelatihan keterampilan, pembentukan kelompok usaha bersama (KUB), dan pendampingan pemasaran produk lokal kepada 200 UMKM di desa-desa target.
2. Pendidikan dan Literasi: Program tutor belajar untuk 500 anak sekolah dasar dan menengah, pelatihan literasi digital untuk 150 guru, serta pembentukan 15 perpustakaan komunitas.
3. Infrastruktur dan Lingkungan: Pembangunan atau perbaikan 45 unit sanitasi keluarga, penanaman 5.000 pohon dalam program “Kendari Hijau,” dan pembersihan laut di area pesisir.
4. Kesehatan Masyarakat: Penyuluhan kesehatan reproduksi kepada 300 ibu rumah tangga, program kesehatan mata untuk 400 anak-anak, dan pembentukan 15 pos kesehatan desa.
### Kesiapan dan Persiapan Mahasiswa
Sebelum terjun ke lapangan, seluruh mahasiswa peserta KKN telah menjalani program persiapan intensif sejak bulan Februari. Program ini meliputi pembekalan materi tentang metodologi pengabdian masyarakat, pemahaman konteks sosial budaya desa, pelatihan soft skills, dan simulasi penanganan berbagai situasi di lapangan.
“Mahasiswa kami bukan hanya dibekali teori, tetapi juga practical skills,” jelaskan Dr. Hendra Wijaya. “Mereka telah dilatih tentang pendekatan partisipatif, penggalian potensi lokal, dan fasilitasi berkelanjutan. Kami ingin mereka menjadi agent of change yang bertanggung jawab.”
Kepala Bagian Pembinaan Kemahasiswaan, Dra. Erika Sutrisna, M.Si., juga menambahkan bahwa program pendampingan intensif oleh dosen pembimbing lapangan akan terus berlangsung sepanjang mahasiswa berada di desa. “Setiap kelompok akan dipandu oleh dua dosen pembimbing yang akan melakukan monitoring mingguan. Kami memastikan kualitas pelaksanaan program terjaga,” ungkapnya.
### Peran Organisasi Mahasiswa dalam Koordinasi
Peran Senat Mahasiswa dan organisasi mahasiswa lainnya di UMW sangat krusial dalam kesuksesan program ini. Ketua Senat Mahasiswa, Rizky Pratama, mahasiswa semester 8 Fakultas Teknik, menjelaskan mekanisme koordinasi yang telah disiapkan.
“Organisasi mahasiswa telah membentuk panitia khusus untuk KKN yang terdiri dari perwakilan dari semua organisasi, mulai dari BEM Fakultas hingga unit kegiatan mahasiswa. Panitia ini bertanggung jawab dalam hal logistik, komunikasi dengan desa, pemantauan lapangan, dan evaluasi program,” kata Rizky saat sesi diskusi panel dalam peluncuran program.
Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. Siti Nurhaliza, M.Ed., memuji kesiapan organisasi mahasiswa ini. “Saya sangat terkesan dengan dedikasi organisasi mahasiswa. Mereka telah menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia tidak hanya mampu berprestasi akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial yang tinggi. Ini adalah spirit sejati dari pengabdian masyarakat,” bebernya.
### Dukungan Pemerintah Daerah dan Stakeholder
Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara juga menunjukkan antusiasme tinggi terhadap program ini. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Sulawesi Tenggara, Ir. Muchlis Syamsuddin, hadir dalam peluncuran dan memberikan dukungan penuh.
“Program KKN UMW ini sangat sejalan dengan program pemberdayaan desa yang sedang kami jalankan. Kehadiran mahasiswa sebagai fasilitator pemberdayaan akan mempercepat pencapaian target pembangunan desa di daerah kami. Kami berkomitmen untuk memberikan dukungan administratif dan fasilitas yang diperlukan,” ujar Muchlis.
Selain itu, perwakilan dari Bupati Wakatobi, Basri Rase, juga turut hadir dan memberikan sambutan. “Kami mengapresiasi kepedulian UMW terhadap pembangunan desa-desa di Kabupaten Wakatobi. Mahasiswa UMW yang terdiri dari putra putri lokal dan pendatang diharapkan dapat menjadi jembatan pembangunan. Kami siap mendukung segala kebutuhan program ini,” katanya.
### Dampak dan Harapan Jangka Panjang
Rektor UMW dalam penutupan acara mengungkapkan harapan besar terhadap dampak jangka panjang dari program KKN terintegrasi ini. “Kami berharap bahwa program KKN tahun ini tidak hanya meninggalkan infrastruktur fisik, tetapi juga membangun fondasi berkelanjutan untuk pemberdayaan masyarakat. Mahasiswa kami akan menjadi mentor yang terus terhubung dengan desa masing-masing, bahkan setelah program berakhir,” tutur Prof. Bambang Suryanto.
Dr. Hendra Wijaya menambahkan bahwa UMW juga merencanakan sistem monitoring jangka panjang. “Kami akan melakukan evaluasi pasca-KKN selama dua tahun ke depan untuk melihat keberlanjutan program. Jika hasilnya positif, kami akan mengembangkan model KKN ini menjadi program pengabdian masyarakat berkelanjutan,” jelasnya.
Dengan dukungan penuh dari berbagai pihak, Program KKN Terintegrasi 2026 Universitas Mandala Waluya diharapkan dapat menjadi model pengabdian masyarakat yang inovatif dan berkelanjutan. Komitmen UMW, dedikasi mahasiswa, dan dukungan pemerintah serta masyarakat lokal menciptakan ekosistem yang kondusif untuk perubahan sosial yang positif di wilayah Sulawesi Tenggara.
—
Penulis: Tim Jurnalis Kampus UMW
Diterbitkan: 10 April 2026